Pagi itu terasa teduh di sebuah pelataran kelas. Bukan suasana hening yang mendominasi, melainkan riuh rendah aktivitas siswa yang sibuk dengan tugasnya. Di lantai depan kelas, berbagai bungkus produk berserakan—mulai dari makanan ringan hingga minuman kemasan. Di balik “kekacauan” yang teratur itu, tampak tangan-tangan terampil siswa kelas 9 yang sedang bekerja dalam kelompok, mengamati, mencatat, dan berdiskusi.
Hari itu, pembelajaran Bahasa Inggris terasa berbeda. Bu Retno, sang guru, tidak sekadar menyampaikan materi tentang label. Ia mengajak siswa untuk benar-benar “menghidupi” pelajaran tersebut. Dengan pendekatan learning by doing, siswa diminta mencari kemasan produk dan mengidentifikasi berbagai informasi penting di dalamnya—mulai dari brand (merek), expiration date (tanggal kedaluwarsa), composition, hingga nutrition facts.
Metode ini bukan tanpa dasar. Filosofi pendidikan learning by doing yang dicetuskan oleh John Dewey menekankan bahwa pengalaman langsung adalah kunci pemahaman yang mendalam. Pendidikan, menurut Dewey, bukan sekadar persiapan untuk hidup, melainkan bagian dari kehidupan itu sendiri. Apa yang dilakukan Bu Retno pagi itu menjadi cerminan nyata dari gagasan tersebut.
Siswa tampak antusias. Mereka berdiskusi aktif, saling bertukar pendapat, bahkan sesekali berdebat kecil untuk menentukan jawaban yang tepat. Proses belajar tidak lagi berpusat pada guru, melainkan pada pengalaman dan keterlibatan siswa secara langsung. Mereka tidak hanya membaca label, tetapi juga memahami makna dan fungsi dari setiap informasi yang tertera.
Puncak kegiatan terjadi saat setiap kelompok diminta mempresentasikan hasil temuan mereka di depan kelas menggunakan Bahasa Inggris. Dengan penuh percaya diri, siswa menyampaikan hasil analisis mereka. Meskipun masih terbata di beberapa bagian, semangat mereka untuk mencoba dan belajar terlihat jelas.
Melalui kegiatan ini, siswa tidak hanya memahami materi label, tetapi juga belajar berpikir kritis, bekerja sama, dan berkomunikasi. Sebuah pengalaman belajar yang sederhana, namun sarat makna.
Seperti yang diyakini John Dewey, pengalaman adalah guru terbaik. Dan pagi itu, di kelas sederhana tersebut, para siswa belajar bukan hanya dari buku, tetapi dari kehidupan nyata yang mereka sentuh dan alami sendiri. Dan ini merupakan habit setiap guru di MTs Attaqwa 03 ini. (Waka Kurikulum/Abg)





Comments are closed