shape
shape

Di Antara Rak-Rak Buku, Harapan Itu Tumbuh

Ketika Guru dan Siswa MTs Attaqwa 03 Menjadikan Membaca Sebagai Budaya

Bekasi — 28 Juli 2026. Suasana pagi di Perpustakaan Hybrid MTs Attaqwa 03 Babelan tampak berbeda. Tidak terdengar riuh percakapan atau hiruk-pikuk aktivitas sekolah. Yang mendominasi justru bunyi halus lembar demi lembar buku yang dibalik, tatapan mata yang serius, serta wajah-wajah penuh rasa ingin tahu. Di ruangan itulah puluhan siswa dan guru larut dalam dunia yang sama: dunia membaca.

Di salah satu sudut perpustakaan, seorang siswi kelas IX, Gisela Husna Hasifa, tampak tenggelam dalam buku berjudul When the Dead Bodies Speak karya Dr. Hengki Haryadi. Sesekali dahinya berkerut, lalu tersenyum kecil seolah menemukan jawaban dari misteri yang sedang dipecahkan.

Buku bertema kriminal itu mengisahkan bagaimana tubuh korban yang telah meninggal seakan “berbicara” melalui bukti-bukti forensik, mengungkap penyebab kematiannya dan mengarahkan penyelidikan menuju pelaku. Tema tersebut menjadi alasan Gisela memilih buku itu.

“Saya memang tertarik dengan cerita-cerita detektif. Rasanya seru ketika harus mengikuti alur penyelidikan dan mencari tahu siapa pelakunya. Dari buku ini saya juga belajar bahwa ilmu pengetahuan bisa membantu mengungkap kebenaran,” ungkapnya.

Gisela hanyalah satu dari puluhan siswa yang menjadikan perpustakaan sebagai shelter ilmu. Di sela waktu luang, mereka memilih duduk di antara rak-rak buku daripada sekadar menghabiskan waktu dengan gawai. Ada yang membaca novel, ensiklopedia, buku sejarah, sains, hingga literatur keislaman.

Menariknya, budaya membaca di MTs Attaqwa 03 tidak hanya hidup di kalangan peserta didik.

Di meja lain, beberapa guru terlihat sama khusyuknya membuka buku-buku bacaan. Mereka membaca, memberi tanda pada halaman tertentu, lalu sesekali berdiskusi mengenai isi buku yang baru saja mereka selesaikan. Pemandangan itu menghadirkan pesan sederhana namun kuat: budaya literasi tidak mengenal usia maupun profesi.

Ketika guru membaca, siswa melihat teladan. Ketika siswa membaca, guru menemukan semangat baru untuk terus belajar. Hubungan itu melahirkan ekosistem belajar yang sehat, di mana semua warga sekolah bertumbuh bersama sebagai pembelajar sepanjang hayat.

Upaya membangun budaya literasi ini bukan tanpa alasan. Berdasarkan hasil Programme for International Student Assessment (PISA), kemampuan literasi membaca Indonesia masih berada pada peringkat 63 dari 81 negara. Fakta tersebut menjadi pengingat bahwa meningkatkan minat baca bukan lagi sekadar program sekolah, melainkan sebuah kebutuhan untuk mempersiapkan generasi masa depan.

Karena itulah MTs Attaqwa 03 terus mengoptimalkan keberadaan Perpustakaan Hybrid sebagai pusat belajar yang nyaman, modern, dan mudah diakses oleh seluruh warga sekolah. Perpustakaan tidak lagi dipandang sebagai tempat meminjam buku semata, tetapi menjadi ruang bertemunya ide, pengetahuan, kreativitas, dan inspirasi.

Kepala MTs Attaqwa 03, KH. Irfan Shidiq, M.Pd., mengaku bahagia melihat antusiasme guru dan siswa yang semakin akrab dengan buku.

“Melihat perpustakaan dikunjungi guru dan siswa yang membaca adalah kebahagiaan tersendiri bagi kami. Seluruh ikhtiar menghadirkan fasilitas literasi yang nyaman terasa sangat sepadan ketika warga sekolah memanfaatkannya untuk terus memperbarui wawasan. Buku bukan hanya sumber informasi, tetapi juga jendela yang membentuk cara berpikir, memperluas perspektif, dan melahirkan generasi yang berilmu serta berkarakter. Inilah investasi terbaik bagi masa depan MTs Attaqwa 03.”

Di tengah derasnya arus informasi digital, kebiasaan membuka buku mungkin terlihat sederhana. Namun dari kesederhanaan itulah lahir kemampuan berpikir kritis, imajinasi yang kaya, dan karakter pembelajar yang tangguh.

Setiap halaman yang dibaca hari ini adalah langkah kecil menuju masa depan yang lebih besar. Dan di antara rak-rak buku Perpustakaan MTs Attaqwa 03, harapan itu terus tumbuh—halaman demi halaman, pembaca demi pembaca. (Waka Kurikulum/Abeng)

Comments are closed