Bekasi — 30 Juli 2026. Di tengah derasnya arus informasi digital yang kerap menyita perhatian remaja, Perpustakaan MTs Attaqwa 03 Babelan menghadirkan sebuah gerakan sederhana namun bermakna: Program “1 Siswa 1 Buku” Selama dua pekan, setiap siswa diajak kembali bersahabat dengan buku, memilih satu judul yang mereka sukai, membacanya hingga tuntas, lalu menuangkan pemahamannya dalam bentuk ringkasan digital. Menariknya, siswa diberi kebebasan menentukan tema bacaan, baik dari koleksi buku fisik maupun e-book yang tersedia di perpustakaan.
Program literasi ini bukan sekadar memenuhi tugas akademik. Lebih dari itu, ia menjadi ikhtiar madrasah untuk mengembalikan kebiasaan membaca yang perlahan terkikis oleh penggunaan gawai. Setelah menyelesaikan ringkasan, para siswa juga diminta menceritakan kembali isi buku secara lisan. Kegiatan ini dirancang untuk melatih keberanian berbicara, kemampuan memahami bacaan, sekaligus mengasah keterampilan “storytelling” yang sangat dibutuhkan dalam kehidupan sehari-hari.
Penanggung jawab kegiatan literasi madrasah, Retno Widiastuti, menjelaskan bahwa program ini lahir dari keprihatinan terhadap semakin jauhnya anak-anak dari dunia buku. “Kami ingin merangkul kembali para siswa yang selama ini mulai terjauhkan dari buku karena banyak waktu mereka tersita untuk menggunakan gadget. Kepala madrasah terus mencari berbagai upaya agar minat baca siswa kembali tumbuh. Salah satu ikhtiar yang kami lakukan adalah menghadirkan perpustakaan yang representatif dengan koleksi buku yang semakin beragam. Kini banyak judul-judul baru yang temanya sangat dekat dengan kehidupan remaja sehingga mereka merasa lebih tertarik untuk membaca,” ujar Retno.
Suasana perpustakaan pun tampak semakin hidup. Rak-rak buku yang dipenuhi koleksi terbaru menjadi magnet bagi para siswa untuk singgah, membaca, dan berdiskusi. Di antara mereka tampak Muhammad Atharizz Abrisam Pramono, siswa kelas VIII D, yang baru saja menuntaskan bacaan Sherlock Holmes Short Stories karya Sir Arthur Conan Doyle. Buku berbahasa Inggris itu dibacanya dengan lancar dan penuh percaya diri.
Kefasihan Atharizz bukanlah hasil instan. Kebiasaan membaca buku-buku berbahasa Inggris yang terus diasah di bawah bimbingan guru mata pelajaran membuatnya mampu menikmati cerita detektif legendaris tersebut tanpa kesulitan berarti. Ia menjadi salah satu contoh bahwa budaya membaca mampu meningkatkan kemampuan berbahasa sekaligus memperluas wawasan.
Seluruh hasil ringkasan siswa dikumpulkan melalui aplikasi Sisfoma menggunakan akun masing-masing. Proses pengumpulan dan pemantauan dilakukan secara digital sehingga wali kelas dapat mengikuti perkembangan literasi setiap peserta didik dengan lebih mudah.
Retno Widiastuti mengaku bangga melihat respons positif yang ditunjukkan para siswa. “Senang rasanya melihat antusiasme siswa pada program ini. Semoga semangat membaca ini terus berlanjut, tidak hanya selama kegiatan berlangsung, tetapi menjadi kebiasaan yang melekat dalam kehidupan mereka. Dari buku, mereka belajar berpikir kritis, berimajinasi, dan memperkaya wawasan untuk menghadapi masa depan,”tuturnya.
Semangat literasi tersebut juga tercermin dari meningkatnya aktivitas di perpustakaan. Kepala Perpustakaan MTs Attaqwa 03 Babelan, Lutfiyah Rahmawati, mengungkapkan bahwa rata-rata terdapat sekitar 200 kunjungan siswa setiap hari. Seluruh aktivitas kunjungan tercatat secara otomatis melalui sistem tapping kartu identitas (ID Card) siswa sebelum memasuki ruang perpustakaan. Data tersebut menjadi indikator bahwa perpustakaan bukan lagi sekadar ruang penyimpanan buku, melainkan telah berkembang menjadi pusat belajar yang aktif, nyaman, dan diminati warga madrasah.
Kepala MTs Attaqwa 03, KH. Irfan Shidiq, menegaskan bahwa budaya membaca harus menjadi kebiasaan seluruh warga sekolah, baik siswa maupun guru. “Membaca adalah investasi ilmu yang tidak pernah rugi. Saya berharap seluruh warga madrasah, baik siswa maupun guru, terus meningkatkan budaya membaca. Seorang guru tidak boleh berhenti belajar. Ia harus selalu meng-update keilmuannya agar mampu menghadirkan pembelajaran yang relevan, inspiratif, dan mampu membimbing peserta didik menghadapi tantangan zaman,” tegasnya.
Melalui Program “1 Siswa 1 Buku”, MTs Attaqwa 03 Babelan tidak hanya mengajak siswa menyelesaikan satu bacaan. Madrasah sedang menanamkan benih kecintaan terhadap ilmu pengetahuan, membangun budaya literasi yang berkelanjutan, sekaligus menyiapkan generasi yang mampu berpikir kritis, berkomunikasi dengan baik, dan menjadikan membaca sebagai bagian dari gaya hidup mereka. Di era ketika layar gawai begitu mudah memikat perhatian, langkah kecil membuka lembar demi lembar buku justru menjadi jalan besar menuju masa depan yang lebih cerdas. (Waka Kurikulum/abg)





Comments are closed