shape
shape
  • Home
  • Guru Menulis
  • Workshop Implementasi Kurikulum Berbasis Cinta Digelar untuk Guru MTs se-Kabupaten Bekasi

Workshop Implementasi Kurikulum Berbasis Cinta Digelar untuk Guru MTs se-Kabupaten Bekasi

Bekasi, 5 Januari 2026 — Upaya penguatan pendidikan madrasah yang humanis dan berkarakter terus dilakukan Kementerian Agama. Salah satunya melalui Workshop Implementasi Kurikulum Berbasis Cinta bagi guru Madrasah Tsanawiyah (MTs) se-Kabupaten Bekasi yang digelar pada Senin–Selasa, 5–6 Januari 2026, bertempat di Gedung Serba Guna Yayasan Attaqwa Babelan. Kegiatan ini diikuti oleh wakil kepala madrasah bidang kurikulum dari seluruh MTs di Kabupaten Bekasi.

Dalam sambutannya, H. Irfan, S.Ag., M.Pd., dalam kapasitasnya sebagai ketua panitia menyampaikan ucapan selamat datang kepada para narasumber yang telah meluangkan waktu untuk berbagi ilmu dan pengalaman. Ia berharap materi yang disampaikan dalam workshop ini dapat diaplikasikan secara nyata oleh para peserta di madrasah masing-masing. H. Irfan juga mengucapkan terima kasih kepada seluruh pihak yang telah mendukung terselenggaranya kegiatan tersebut terutama kepada kepala kemenag kabupaten Bekasi dan ketua tim kurikulum kanwil kemenag Jawa Barat.

Sementara itu, Drs. H. Umar Nasir Assubhi, M.Si., selaku Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Bekasi, menegaskan pentingnya workshop ini mengingat peran strategis pengelola kurikulum sebagai motor penggerak pembelajaran di sekolah. Menurutnya, para pengelola kurikulum memiliki urgensi untuk terus mengikuti perkembangan dan pembaruan kebijakan pembelajaran, terlebih kurikulum berbasis cinta merupakan salah satu prioritas program kerja Kementerian Agama dalam menumbuhkan nilai toleransi dan kecintaan antarsesama anak bangsa.

Workshop ini menghadirkan sejumlah narasumber kompeten. Prof. Dr. KH. Mahmud, M.Si., CSEE., MCE., memaparkan materi tentang kurikulum dalam perspektif Pendidikan Islam. Ia menjelaskan bahwa Pendidikan Islam memandang kurikulum sebagai sarana strategis untuk membentuk peserta didik yang tidak hanya unggul secara intelektual, tetapi juga kuat secara spiritual dan berakhlak mulia. Kurikulum Pendidikan Islam menekankan keseimbangan antara ilmu pengetahuan, nilai keimanan, serta pengamalan ajaran agama dalam kehidupan sehari-hari melalui integrasi pengetahuan umum dengan nilai-nilai Al-Qur’an dan hadis.

Selain itu, Kepala Tim Kurikulum Kanwil Kementerian Agama Provinsi Jawa Barat, Widya Arthawati, M.Pd., menegaskan pentingnya implementasi kurikulum berbasis cinta sebagai fondasi dalam membangun pendidikan madrasah yang humanis, inklusif, dan berkarakter. Menurutnya, kurikulum ini tidak semata berorientasi pada capaian akademik, tetapi juga pada pembentukan sikap peserta didik agar tumbuh menjadi pribadi yang berakhlak, saling menghormati, dan mampu hidup berdampingan secara damai di tengah keberagaman. Nilai cinta diwujudkan melalui pendekatan pembelajaran yang ramah anak, dialogis, serta menciptakan rasa aman dan nyaman di lingkungan madrasah.

Topik lain yang turut menjadi perhatian adalah pemanfaatan teknologi. Dahli Ahmad, M.Pd., memaparkan peran kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) dalam mendukung penyusunan Modul Ajar Kurikulum Berbasis Cinta. Ia menyampaikan bahwa AI dapat dimanfaatkan untuk membantu pendidik menyusun modul ajar secara lebih sistematis, efisien, dan kontekstual, tanpa mengesampingkan nilai-nilai kemanusiaan. Selain itu, kegiatan pendampingan praktik penyusunan modul ajar juga diberikan agar guru mampu menggunakan teknologi secara bijak, dengan tetap menempatkan nilai cinta, keteladanan, dan sentuhan pedagogis sebagai inti pembelajaran.

Melalui workshop ini, diharapkan para pengelola kurikulum MTs di Kabupaten Bekasi dapat memperkuat perannya dalam mengimplementasikan kurikulum berbasis cinta secara berkelanjutan, sehingga madrasah semakin mampu melahirkan generasi yang cerdas, berkarakter, dan berakhlak mulia. (Waka kurikulum/abeng)

Comments are closed